TERBARU

BERITA

ARTIKEL

Ada yang Mengancam NU dan Indonesia, Kiai Said Bilang USIR.!

Ketua Umum PBNU saat mengisi ceramah di acara Harlah NU di Kabupaten Jepara. [IP-088]
IslamPublika.com, JEPARA – Jika ada orang Islam yang bikin kacau di Indonesia, bagaimana sikap Nahdliyyin? Pertanyaan itu sempat dilontarkan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj saat menjadi penceramah tunggal dalam Harlah NU ke 94 yang diselenggarakan PCNU Jepara di alun-alun 2 Jepara, Ahad (16/04/2017) siang.

Sekarang ini, kata Kiai Said, ada orang ajaib yang datang tiba-tiba. Mereka tidak ikut memerdekakan Indonesia, tidak ikut membangun bangsa, tidak ikut juga mendirikan pesantren, tidak membaur ke masyarakat, tidak pula ikut berdakwah ke kampung-kampung, tapi ujug-ujug menuduh musyrik, bid'ah, kafir, sesat dan neraka.

"Yang begitu membuat rusuh atau bukan?" Puluhan ribu hadirin serempak mengamini, mengiyakan. Bagaimana tidak, masyarakat yang sudah tenang dengan tahlilan, manaqiban, rejeban, selametan, syukuran, nuzulul qur'an, kok tiba-tiba dianggap bid'ah semua.

Al Murjifuna, yakni orang-orang yang bikin kacau, pembuat rusuh yang ada di Madinah, kata Allah "saya ijinkan kamu (Muhammad), serang mereka. Jangan biarkan mereka hidup di Kota Madinah, menjadi tetanggamu. Usir mereka!".

"sekarang kalau ada orang masuk ke Jepara, diapakan?" Pertanyaan Kiai Said itu dijawab berang-bareng, "Usiiiir" oleh ribuan peserta yang sudah sejak pagi menunggu undian kupon sepeda santai, memperebutkan hadiah utama Grand Max.

"Siapapun, termasuk HTI, yang bikin kacau, bikin resah, bikin konflik (usir)," tegas Kiai Said. 'Mereka bilang kalau apapun yang tidak dilakukan oleh Rasulullah itu bid'ah sesat. Padahal mereka pidatonya pakai Bahasa Indonesia, bukan bahasa Arab. Bid'ah tidaaak?" tanya Kiai Said sekali lagi, dan dijawab "Bid'ah".

Makanya, mereka yang mengikuti manhaj Nahdlatul Ulama akan mendapatkan dua hal, yakni semangat beragama dan juga semangat berbangsa. Mengapa? Karena kiai-kiai dulu, disamping mendakwahkan Islam juga ikut berkorban berjuang memerdekakan Indonesia. "Ratusan ribu kiai (jadi) syahid melawan Belanda," imbuh Kiai Said.

"Man mata liajli wathanihi mata syahidan, man khana li wathanihi, halalan damuhu walam yakuna kafiran/Barang siapa mati membela tanah airnya, mati syahid. Barang siapa berkhianat kepada bangsanya(Belanda), boleh dibunuh tapi tidak kafir," tambah Kiai Said menirukan ucapan Mbah Hasyim Asyari.


Kiai Said melanjutkan, keberhasilan dakwah Nabi itu bukan dengan cara ngacau dan pecicilan serta pethakilan. Jika ada yang bikin kacau dakwah Islam, kata Allah, usir.!

IslamPublika.com/125/089

Ketum PBNU Restui Sikap GP Ansor Dalam Menyikapi Kelompok Intoleran

Ketum PP GP Ansor beserta jajaran pengurus bersilaturahmi kepada Ketum PBNU
IslamPublika.com, Jakarta: Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas dan jajarannya bersilaturahmi kepada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA di Gedung PBNU, Senin sore (20/03/2017).  Dalam pertemuan tersebut, PP GP Ansor melaporkan pelaksanaan program-program GP Ansor yang selama ini telah berlangsung.

"Kami laporkan program kaderisasi di GP Ansor, kiai," kata Ketum GP Ansor yang biasa disapa Gus Yaqut ini.

GP Ansor juga meminta agar PBNU memberikan dukungan atas langkah-langkah GP Ansor di lapangan dalam menyikapi kelompok intoleransi.
"Kami harus hadir di tengah masyarakat muslim yang diganggu kelompok intoleran," kata Yaqut.

Mendengar laporan GP Ansor, Kiai Said Aqil meminta agar GP
Ansor dan Banser tegas lagi menyikapi situasi lapangan yang mengganggu muslim Indonesia yang toleran. "Kalian boleh saja reaktif tapi harus menjadi pengendali isu.

Saya juga setuju dan mendukung bathsul masail yang berkembang di GP Ansor," kata Kiai Said Aqil.

Dalam waktu dekat, GP Ansor juga akan berencana memberangkatkan umroh 999 anggota Banser.


IslamPublika.com/099-WKZ

Boikot Program "Berita Islami Masa Kini” Trans TV

Ajaran Wahabi menjadi virus perpecahan di tengah umat Islam di Indonesia. Mereka suka membid’ahkan, mesyirikkan dan mengafirkan yang tak segaris dengan ajarannya. Tak sedikit Rakyat Indonesia dan kemajemukan negeri yang telah menjadi korban.

Sungguh nyata bila program religi stasiun televisi nasional dikuasai paham yang makin menjauhkan masyarakat dari nilai keagamaan sebenarnya.

Yang paling mencolok adalah stasiun televisi Trans-TV, dimana program acara religi (keIslaman) sudah sangat menyimpang dari nilai, paham dan tradisi Islam yang tumbuh dan berkembang di negeri ini.

Tak ada cara lain, sudah waktunya kita serentak memboikot program acara televisi yang sudah berkali-kali juga ditegur oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI Pusat).

Tolak ajaran Wahabi yang menyusup dalam program acara Televisi dan media apapun.

1. Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPI Pusat) mengeluarkan sanksi administratif Teguran Tertulis Kedua untuk program acara “Berita Islami Masa Kini” yang dibawakan oleh Teuku Wisnu di Trans TV (Berita Islami Masa Kini mendapat Teguran Tertulis Kedua. 2015).

2. Dalam sebuah program TV bertajuk “Berita Islam Masa Kini” di salah satu televisi nasional, Teuku Wisnu selaku pembawa acara program itu menyatakan keharaman amaliah ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) mengirim atau menghadiahkan bacaan Qur’an Surat Al-Fatihah untuk mayit.

3. program siaran yang berisi perbedaan pandangan atau paham dalam suatu agama wajib disajikan secara berhati-hati, berimbang, dengan dai tanpa masalah, yang berkompeten dan dapat dipertanggungjawabkan.

4. "Berita Islami Masa Kini" yang selama ini cenderung ke salah satu paham yang gemar merasa benar sendiri berdasarkan argumen yaitu "dalil-dalil" tekstual, lalu menyalahkan paham lain, harus segera dihentikan dan  diganti dg suguhan pemahaman orang Islam bahwa Islam itu beragam, majemuk, plural, damai dan menyejukkan.

5. Jangan sampai ada oknum yang tidak tahu sejarah pergerakan Indonesia,, bagaimana perjumpaan Agama dan Negara, lalu mengatakan Indonesia harus diubah, Negara kafir.

Ayo bergerak bersatu cegah virus ajaran wahabi yang meresahkan dan mengadu domba umat islam dengan cara mengirim pengaduan terkait acara wahabi agar segera ditutup dan memboikot stasiun televisi yang telah sudi memberikan tempat pada mereka.

Mari kita hadirkan Islam yang berwajah ramah, damai, santun, mencerahkan dan penuh kesejukan. Perbedaan dirayakan bukan malah dipertentangkan apalagi saling mengkafirkan dan penuh ujaran kebencian antar sesama.

Menjadi Islam, menjadi Indonesia.
Salam Islam Damai

9 Maret 2017
Forum Pecinta Islam Damai


H. ALI MURTADHO

Ini Pentingnya Haul Dan Tahlil Bagi Spiritualitas

Ketum PBNU dalam Haul Agung Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo ke-514 di Masjid Demak. [IP/adm-023]
IslamPublika.com, Demak -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA menghadiri Haul Agung Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo ke-514, di Masjid Demak, Sabtu malam (11/03/2017). Para kiai dan habaib juga hadir di antaranya Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.

"Di tengah gencarnya kelompok yang mengatakan haul itu bid'ah dan ajaran sesat, alhamdulillah muslim Indonesia tidak surut mengamalkan ibadah haul. Inilah kalimatul haqq, shawtul haqq, ashabul haqq," kata Kiai Said Aqil Siroj.

Menurut Kiai Said Aqil, kekuasaan Raden Fattah (Demak) adalah bukti sejarah bagaimana harmonisnya ulama dan umara dalam menguatkan tradisi  budaya, menjaga stabilitas tanah air, sehingga Islam bisa disebarkan dengan baik.

"Tidak mungkin menyebarkan Islam di tengah konflik dan gejolak, karena itu sinergi ulama dan umaro sangat penting bagi perkembangan Islam," kata kiai pengasuh Pondok Pesantren as-Tsaqofah, Ciganjur itu.

Tidak hanya di Demak dan sekitarnya, di daerah-daerah lain pun para pendakwah Islam berbaur dengan tradisi budaya masyarakat dan menjaga harmoni dengan umara demi stabilitas tanah air.

"Syarief Hidayatullah dan Kesultanan Cirebon juga sinergi dengan baik, Kesultanan Lumajang, Kesultanan Perlak, Kesultanan Samudera Pasai juga bersinergi dengan para pendakwah Islam," kata Kiai Said Aqil.

Kiai Said Aqil pun menegaskan bahwa masa depan Islam Nusantara semakin kuat dan jaya. Masyarakat muslim tidak pernah berhenti tahlil, ziarah, haul, menyambungkan batin spiritualitasnya dengan para wali, ulama dan orang-orang saleh.

"Orang-orang NU tetap haul dan tahlil karena sudah merasakan begitu nikmatnya dekat dengan ulama dan orang-orang saleh," ujar Kiai Said.

IslamPublika.com/ADM-023


Ketum PBNU: Penguatan Budaya & Cinta Tanah Air untuk Pengembangan Islam

Jogjakarta, IslamPublika.com: Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. Said Aqil Siroj, MA menghadiri acara puncak Haul al-Maghfurllah KH. M. Moenawwir bin Abdullah Rosyad ke-78 serta para Masyayikh dan Dzuriyyah Pondok Pesantren al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta, Kamis malam Jum'at (09/03/2017).

Di tengah gempuran kelompok tertentu yang memvonis bid'ah, dhalal, finnar, NU masih terus meyakini kebenaran ajaran haul warisan para kiai terdahulu.

"Alhamdulillah kita masih terus mengadakan peringatan wafatnya para ulama dan awliya'," kata Kiai Said Aqil.

Menurut Kiai Said Aqil, para kiai tempo dulu melestarikan tahlil, selametan, dan lainnya itu untuk mempertahankan budaya dan menguatkan Islam.

"Mbah Moenawwir, Mbah Ali Maksum, Mbah Zainal dan yang lain itu telah menguatkan Islam dengan menjadikan budaya sebagai infrastruktur agama," urai Kiai Said Aqil.

Kiai Said menambahkan, Islam bukan hanya persoalan syari'ah dan akidah, namun juga agama, kebudayaan dan peradaban.
"Islam juga membangun karakter, akhlakul karimah dan masyarakat yang maju," kata Kiai Said Aqil.

Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah karena ingin membangun budaya, menguatkan tanah airnya.
"Di atas tanah air yang kuat itulah Rasulullah menyebarkan Islam ke seluruh dunia," kata alumni Krapyak tersebut.

Puncak haul para masyayikh Pesantren Krapyak ini sebelumnya diramaikan dengan acara seminar "Penguatan Ekonomi dan Usaha Pesantren", kompetisi esai, Istima'il Qur'an di 14 majelis dan Takhtim al-Qur'an di Maqbaroh Dongkelan.

IslamPublika.com/Wkz/099

KH Said Aqil: Al-Azhar Ingin Dengar Pengalaman NU Jaga Keragaman

 Jakarta, IslamPublika.com -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA bertolak ke Mesir pada hari Selasa (28/02/2017) dini hari pukul 00.55 WIB. Kunjungan ini untuk memenuhi undangan Muktamar Al-Azhar dan Majelis Hukamaul Muslimin.

"Saya harus memenuhi undangan ini karena tema yang diangkat tentang keragaman," kata Kiai Said Aqil di Bandara Soekarno Hatta sesaat sebelum take off.

Menurut Kiai Said Aqil, keragaman manusia termasuk di dalamnya agama sudah jadi tema penting masyarakat dunia.  Saat ini ada gejala dominasi wacana anti keragaman. Dunia sudah gelisah.

"Saya akan sampaikan pengalaman NU dan Indonesia, prinsip-prinsip bermasyarakat warga NU dan Bhinneka Tunggal Ika," kata kiai pengasuh Ponpes As-Tsaqofah, Ciganjur ini.

Kiai Said Aqil menjelaskan, keresahan dunia terhadap gejala anti keragaman sama dengan yang dialami bangsa Indonesia. Pemicunya sama, yaitu kelompok kecil yang mendominasi wacana intoleransi.

"Di Indonesia marak kasus intoleransi ya diblow up kelompok kecil yang tercerabut dari karakter bangsa Indonesia. Watak orisinal bangsa kita aslinya ya toleran, moderat," ujar Kiai Said Aqil.

Sementara itu Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Mesir sudah siap menyambut Kiai Said Aqil. Termasuk para kader NU yang sedang studi di Universitas Al-Azhar.


"Kami para kader NU telah siap mendampingi Kiai Said Aqil demi maksimalnya misi beliau selama di Mesir," kata Mas Amud, mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Jawa Barat.

IslamPublika.com / 111

Ternyata, Ini Jumlah Pesantren di Jawa Tengah

 
Gus Rozin berbaju putih menyampaikan materi pada peserta. [IslamPublika.com]
Semarang, IslamPublika.com -- Dilihat dari jumlah pesantren di Jawa Tengah menduduki urutan ketiga dalam tingkat nasional dengan jumlah 4.759. Dari sinilah pesantren di Jateng memiliki barometer dalam penentuan arah kebijakan pesantren nasional. Pengurus Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) bekerjasama dengan Bidang Pendidikan dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Tengah menggelar koordinasi dengan pengurus kabupaten se-Jawa Tengah di pondok pesantren Al-Asror Gunungpati, (26/2). Pertemuan ini membahas perkembangan persiapan Musabaqah Qiroatul Kutub Nasional di Jepara dan perkembangan pesantren terkini.

Perwakilan dari kementerian agama kantor wilayah Jawa Tengah dalam hal ini diwakili dari bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf, Drs. H. Ahyani, M. Si mengharapkan bahwa MQK yang digelar Oktober besok berjalan dengan lancar. Perlombaan seperti ini sebagai ajang syiar kepada khalayak bagaimana kemampuan santri membaca kitab kuning.

Hadir ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama, KH. Abdul Ghaffar Rozin, M. Ed menyampaikan bahwa berbagai kalangan baik pemerintah hingga swasta memberikan perhatian kepada pesantren. Hal ini menjadi modal penting dalam menggerakkan kepentingan dan kebutuhan pesantren bersama-sama.

“Memahami pesantren harus secara substantif tak bisa melihat permukaan belaka,” papar Gus Rozin, pengasuh pesantren Maslakul Huda ini.

Jawa Tengah dengan jumlah santri 614.569 santri sesuai catatan Kemenag Kanwil Jateng mengalami penurunan 638.288 dengan jumlah pesantren 4.847 (2014). Hadirnya FKPP ini mewakili jumlah pesantren sedemikian besar harus mempu menampung berbagai macam aspirasi dan kepentingan. Gus Rozin mendorong agar FKPP mampu memberikan pemahaman tentang pentinganya legal-formal pesantren. Hal ini sebagai identitas pesantren secara resmi, karena masih banyak pesantren yang tak peduli dengan pendataan tersebut.

Kekuatan pesantren bisa menyuarakan secara bersama-sama apa yang menjadi keinginan dalam wadah FKPP ini. Tentu keberpihakan terhadap ahlus sunnah wal jama’ah, kerukunan, kebersamaan menjadi ukuran penting untuk membangun bangsa. selain itu, sinergitas dengan berbagai pihak harus terjalin dengan baik.

IslamPublika.com / 111

© Copyright 2015. Website by Way2themes - Published By Gooyaabi Templates